Mengenal Gunung Krakatau, dari Letusan Dahsyat 1883 hingga Anak Krakatau

News104 Dilihat

Insetzone — Nama Gunung Krakatau tidak lepas dari salah satu peristiwa letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah.

Berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra, kawasan Krakatau hingga kini masih menjadi salah satu wilayah gunung api aktif yang mendapat pemantauan.

Krakatau merupakan kompleks gunung api yang memiliki sejarah geologi panjang. Letusan besar tahun 1883 menyebabkan sebagian besar tubuh gunung runtuh dan membentuk kaldera. Peristiwa tersebut menghasilkan tsunami dan menewaskan lebih dari 36 ribu orang, sebagian besar akibat tsunami yang menerjang pesisir Sumatra dan Jawa.

Dari kawasan kaldera tersebut kemudian muncul Gunung Anak Krakatau. Aktivitas erupsinya mulai tercatat sejak 1927 dan gunung ini terus mengalami pertumbuhan akibat material vulkanik yang keluar dari aktivitas erupsi.

Salah satu peristiwa penting terjadi pada 22 Desember 2018. Aktivitas Anak Krakatau menyebabkan sebagian tubuh gunung longsor dan memicu tsunami di kawasan Selat Sunda. Peristiwa tersebut kembali menunjukkan bahwa aktivitas gunung api di kawasan Krakatau dapat berkaitan dengan ancaman tsunami.

Beberapa fakta penting tentang Krakatau:

  • Krakatau berada di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra.
  • Letusan besar 1883 menyebabkan runtuhnya sebagian besar kompleks gunung api dan terbentuknya kaldera.
  • Letusan 1883 menimbulkan tsunami yang menyebabkan lebih dari 36 ribu korban jiwa.
  • Anak Krakatau tumbuh di dalam kawasan kaldera hasil letusan 1883.
  • Aktivitas erupsi Anak Krakatau telah berlangsung sejak 1927.
  • Pada 22 Desember 2018, longsoran tubuh Anak Krakatau memicu tsunami di Selat Sunda.
  • Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A dan berada dalam pemantauan Badan Geologi melalui pos pengamatan di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Banten.
  • Pada September 2026, Badan Geologi melaporkan adanya fenomena erupsi menerus Gunung Anak Krakatau.

Sejarah Krakatau menunjukkan bahwa ancaman gunung api tidak hanya berupa lava dan abu vulkanik. Di wilayah kepulauan seperti Indonesia, aktivitas gunung api juga dapat memicu bahaya lain, termasuk tsunami. Karena itu, pemantauan aktivitas gunung api dan kepatuhan terhadap informasi resmi kebencanaan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *